Buruh dan May day

Mei 1st, 2008 by topanhidayat

Hari ini 1 Mei adalah mayday yaitu dimana hari bagi buruh untuk menyuarakan keluhan-keluhan dan aspirasi mereka. Buruh identik dengan pekerja kasar, pekerja pabrik dsb, upah yang rendah dengan mahalnya kebutuhan hidup, jadi mereka hidup dalam ketidakseimbangan secara ekonomi, banyaknya tanggungan yang menghantui hidup mereka dan masalah-masalah lain yang menyebabkan mereka tidak juga membaik dalam segi kualitas hidup, apalagi mereka yang hidup diperkotaan.

Upah yang mereka terima setiap bulannya tidak lebih dari Rp. 800.000 ini sangat minim,  tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dijaman sekarang apalagi mereka yang sudah berkeluarga. harus menghidupi istri, menyekolahkan anak, bahkan terkadang ada juga yang tidak menyekolahkan anaknya dengan alasan upah yang mereka hanya pas untuk makan saja, dimana harga harga kebutuhan pokok melambung tinggi, padahal dinegara-negara lain upah buruh diatas nilai itu seperti di Vietnam nilai upahnya sekitar Rp. 30.000 perharinya dan di Cina Rp. 50.000 perhari, kapan upah buruh di Indonesia lebih dari itu.

Nasib buruh sepertinya memang dirugikan oleh kebijakan dan undang-undang yang sudah jelas menekan buruh dalam berbagai peraturan. Kita lihat dalam UU No 21 tahun 2003 sudah jelas perusahaan dalam hal ini lebih diuntungkan, sehingga menimbulkan kontroversi, buruhpun menolak, dan buruh menuntut untuk direvisi undang-undang tersebut, dan nyatanya revisi tersebut tidak juga selesai sampai sekarang dan membuat nasib buruh semakin tidak menentu dan penuh bayangan ketidakadilan.

Sepertinya pemerintah hanya manjadikan mereka sebagai penggerak ekonomi negara dan perusahaan tanpa harus repot-repot memperhatikan kesejahteraan bagi mereka.
Merasa dirugikan oleh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, serikat-serikat buruhpun mereka dirikan untuk melawan kebijakan itu, dan kenyataaanya merekapun harus menelan pilpahit dari kebikan pemerintah, merekapun kalah melawan manipulasi dan penentangan  pemerintah dan perusahaan, kebijakan yang dinilai lebih menguntungkan perusahaan dibanding mereka.

Semoga di hari mayday ini pemerintah dapat mendengar keluhan-keluhan mereka dan sesegera mungkin dapat mengubah kebijakan undang-undang yang tadinya hanya menguntungkan pihak perusahaan sekarang harus disamakan, buruh harus disejahterakan, tanpa mereka perekonomian perusahaan dan negara tidak akan jalan.

Kejadian Aneh

April 27th, 2008 by topanhidayat

Ada yang aneh dengan blogn saya, entah kenapa saya sendiri juga tidak tau, saya sendiri terkejut ketika saya login dengan ID dan password saya koq saya bisa masuk ke blognya spamblog, dan disitu saya juga bisa mengotak-atik blognya spamblog sampai saya test posting dan ternyata bisa dan muncul postingan saya, jangan-jangan sebaliknya blog sayapun bisa diotak-atik oleh spamblog.

Pertama saya login dengan ID dan Password saya, ketika masuk saya iseng-iseng klik seperti pada gambar :
spamblog

setelah saya klik, saya heran koq saya bisa masuk di spamblog, dan seperti ini gambarnya :
bagian dalam spamblog

Ini adalah bagian dalam spamblog, dan saya coba dengan postingan di blog tersebut.

Dan ternyata bisa, postingan saya muncul, seperti ini :
posting di spamblog

Sungguh Aneh  :???:

Buat spamblog sorry bro, ane ngg sengaja… :D

Wah kalo begini apakah saya harus pindah lagi … :???:

Ada yang tau tidak kira-kira kalau kejadian ini kenapa?, apa ada yang iseng terhadap blog saya.. :???: *jadi bingung*

UN menjadikan siswa menjadi malas

April 24th, 2008 by topanhidayat

ngerjain soal

Seluruh siswa di Indonesia hari-hari ini sedang berjuangg melawan Ujian Nasional (UN), standar nilai UN kali ini adalah 5,25 lebih tinggi dibandingkan dengan standar nilai kelulusan tahun-tahun sebelumnya.  Awal mula nilai sistem UN ini dipatok dengan nilai 3,01, 4,01 dan seterusnya sampai 5,25 di tahun 2008. Patokan nilai 5,25 ini dinilai sangat memberatkan para siswa. Jika salah satu pelajaran saja mendapat nilai kurang dari nilai tersebut maka siswa dinyatakan tidak lulus. Tidak bisa dipungkiri Pro dan kontra mengenai UN ini terus bermunculan, karena dengan sistem ini banyak siswa merasa dirugikan, merasa terbebani dan sistem penilaian seperti ini, sebetulnya sungguh tidak adil bagi para siswa/i, kenapa tidak adil karena dalam sistem UN ini sama saja telah menghilangkan penilain pelajaran yang lain, yaitu 2 pelajaran yang saya anggap penting yaitu kerajinan dan kepribadian, dalam UN dua sistem itu tidak ada artinya karena tidak bisa membantu siswa dalam kelulusan, rajin tidak rajin sama saja dimata UN dua-duanya berpeluang lulus dan tidak lulus, karena penilaian UN hanya berpatok 3 mata pelajaran untuk meluluskan siswa,  seharusnya pemerintah lebih adil dalam membuat peraturan dalam dunia pendidikan ini kenapa harus mampu meraih nilai dengan patokan 3 mata pelajaran siswa dianggap lulus, apakah itu juga yang mengukur kecerdasan siswa dalam menyelesaian sekolahnya, tidak jaminan yang lulus UN adalah siswa cerdas, karena UN lebih mengarah atau mendorong siswa untuk mencari keberuntungan semata untuk lulus, bukankah lebih penting meluluskan siswa itu dengan melihat kepribadian dan kerajinan, seharusnya penilaian lulus atau tidaknya siswa itu diseimbangkan, misal siswa A dapat nilainya buruk tapi karena kerajinannya baik ya kerajinan tersebut dapat membantu meluluskan, begitu pula sebaliknya yang kerajinannya jarang tapi dapat nilai sempurna perlu di curigai.

Sebetulnya dengan menilai kepribadian dan kerajinan, siswa akan termotivasi dan rajin untuk sekolah, kalo sudah rajin pastinya siswa mudah memahami dan tidak tertinggal oleh mata pelajaran yang diberikan, coba kalau kedua pelajaran ini tidak dinilai dijamin siswa pasti malas untuk masuk sekolah, kalau sudah malas pasti tidak akan mengerti pelajaran tersebut ya dikarenakan kurangnya dan pastinya tertinggal oleh materi pelajaran.

Ketika saya sekolah dulu, dan waktu itu angkatan saya UN dengan standar nilainya masih 4,01 saya pernah berpikiran seperti ini “ngapain rajin masuk orang rajin juga percuma ndak dinilai sama guru, yang menentukan lulus cuma 3 nilai mata pelajaran itu” bukan saya mengajak untuk malas sekolah ini hanya pengalaman saya selama saya masih sekolah dulu :D , akhirnya memang saya jalani sekolah dengan malas-malasan tapi ya pada akhirnya walau saya malas tetap lulus karena mungkin dengan keberuntungan semata, berarti jelas terbuktikan sistem UN dalam meluluskan siswa lebih mengarah pada keberuntungan semata “siswa malas saja tetap lulus ya karena beruntung bukan“. Kenapa kerajinan dan kepribadian siswa tidak dinilai, dengan tidak adanya nilai kerajinan siswa, siswa merasa absennya itu sia-sia belaka tanpa nilai,  dengan begitu dijamin siswa/i akan menjadi malas dalam sekolah.