UN menjadikan siswa menjadi malas
Seluruh siswa di Indonesia hari-hari ini sedang berjuangg melawan Ujian Nasional (UN), standar nilai UN kali ini adalah 5,25 lebih tinggi dibandingkan dengan standar nilai kelulusan tahun-tahun sebelumnya. Awal mula nilai sistem UN ini dipatok dengan nilai 3,01, 4,01 dan seterusnya sampai 5,25 di tahun 2008. Patokan nilai 5,25 ini dinilai sangat memberatkan para siswa. Jika salah satu pelajaran saja mendapat nilai kurang dari nilai tersebut maka siswa dinyatakan tidak lulus. Tidak bisa dipungkiri Pro dan kontra mengenai UN ini terus bermunculan, karena dengan sistem ini banyak siswa merasa dirugikan, merasa terbebani dan sistem penilaian seperti ini, sebetulnya sungguh tidak adil bagi para siswa/i, kenapa tidak adil karena dalam sistem UN ini sama saja telah menghilangkan penilain pelajaran yang lain, yaitu 2 pelajaran yang saya anggap penting yaitu kerajinan dan kepribadian, dalam UN dua sistem itu tidak ada artinya karena tidak bisa membantu siswa dalam kelulusan, rajin tidak rajin sama saja dimata UN dua-duanya berpeluang lulus dan tidak lulus, karena penilaian UN hanya berpatok 3 mata pelajaran untuk meluluskan siswa, seharusnya pemerintah lebih adil dalam membuat peraturan dalam dunia pendidikan ini kenapa harus mampu meraih nilai dengan patokan 3 mata pelajaran siswa dianggap lulus, apakah itu juga yang mengukur kecerdasan siswa dalam menyelesaian sekolahnya, tidak jaminan yang lulus UN adalah siswa cerdas, karena UN lebih mengarah atau mendorong siswa untuk mencari keberuntungan semata untuk lulus, bukankah lebih penting meluluskan siswa itu dengan melihat kepribadian dan kerajinan, seharusnya penilaian lulus atau tidaknya siswa itu diseimbangkan, misal siswa A dapat nilainya buruk tapi karena kerajinannya baik ya kerajinan tersebut dapat membantu meluluskan, begitu pula sebaliknya yang kerajinannya jarang tapi dapat nilai sempurna perlu di curigai.
Sebetulnya dengan menilai kepribadian dan kerajinan, siswa akan termotivasi dan rajin untuk sekolah, kalo sudah rajin pastinya siswa mudah memahami dan tidak tertinggal oleh mata pelajaran yang diberikan, coba kalau kedua pelajaran ini tidak dinilai dijamin siswa pasti malas untuk masuk sekolah, kalau sudah malas pasti tidak akan mengerti pelajaran tersebut ya dikarenakan kurangnya dan pastinya tertinggal oleh materi pelajaran.
Ketika saya sekolah dulu, dan waktu itu angkatan saya UN dengan standar nilainya masih 4,01 saya pernah berpikiran seperti ini “ngapain rajin masuk orang rajin juga percuma ndak dinilai sama guru, yang menentukan lulus cuma 3 nilai mata pelajaran itu” bukan saya mengajak untuk malas sekolah ini hanya pengalaman saya selama saya masih sekolah dulu
, akhirnya memang saya jalani sekolah dengan malas-malasan tapi ya pada akhirnya walau saya malas tetap lulus karena mungkin dengan keberuntungan semata, berarti jelas terbuktikan sistem UN dalam meluluskan siswa lebih mengarah pada keberuntungan semata “siswa malas saja tetap lulus ya karena beruntung bukan“. Kenapa kerajinan dan kepribadian siswa tidak dinilai, dengan tidak adanya nilai kerajinan siswa, siswa merasa absennya itu sia-sia belaka tanpa nilai, dengan begitu dijamin siswa/i akan menjadi malas dalam sekolah.
April 24th, 2008 at 11:11 am
bacanya cape, ga ada titiknya
buat para siswa yang sedang UN
smoga ujiannya sukses dan bisa segera ngeblog
hehehe
April 24th, 2008 at 11:17 am
nyontek lewat blog emang bisa ya
April 24th, 2008 at 11:19 am
emang blog bisa untuk nyontek po? perasaan blog bisanya kopipaste
April 24th, 2008 at 11:26 am
@edy: yang penting komen dulu baca belakangan

@aries: dilarang kopas bro..
April 24th, 2008 at 12:34 pm
nyonteklah dengan benar dan jangan benar menyontek
April 24th, 2008 at 12:51 pm
masak menjadikan siswa semakin malas dgn UN? gak ah…
April 24th, 2008 at 1:12 pm
@anjari: jangan berisik kalo nyontek
@tia: gini lo mba’ ini menurut pengalaman saya aja, ketika diberlakukannya sistem kelulusan sperti ini saya dulu merasa kerajinan hadir dikelas itu percuma, timbulnya bener2 jadi malas, selain 3 mata pelajaran tersebut semua jadi pelajaran yang ndak penting dan ndak bisa membantu kelulusan, rajin dan ndak rajin dihadapan UN sama, jadi pikiran saya waktu itu ngapain cape2 masuk kalo ndak dinilai dan tidak dapat membantu kelulusan, seharusnya kerajinankan jadi nilai tambah bagi siswa, kalo sama2 begitu mending masuk pas UN nya saja.
*maaf lo mba’ kalo ngawur*
April 24th, 2008 at 1:44 pm
hehehehe kalau rajin masuk tapi kerjaanya di kelas cuma tidur,ngomong dewe,ngerumpi, ra tau nyatet pelajaran ya percuma kan prend dinilai
April 24th, 2008 at 2:01 pm
hahaaa….ternyata……punya sisi gelap juga nih!!!
April 24th, 2008 at 2:05 pm
makane sekolah itu cari ilmu dong!
jangan pada cari nilai to!
April 24th, 2008 at 4:09 pm
jadi tolak un ato gimana cak?
April 24th, 2008 at 6:07 pm
Wah sama dunk.. Saya dulu sering bolos
tp bisa lulus, dulu belum ada UN masih ebtanas tp sama sajalah…
April 25th, 2008 at 8:59 am
@xero: kalau itu saya setuju ndak usah dinilai, tapi kalau bener2 rajin, ya rajin nyatet pokoknya semuanya rajin, tapi ndak dinilai rasanya gimana mas




@indri: manusiawi mas, heheheheheh
@ndoroseten: harusnya dua2nya dicari mas, tanpa nilai ilmu yang kita dapat terkadang kita ndak tau apa itu benar atau salah, misalnya kita ngerjain soal kalo ndak dinilai ya kita ndak tau mana yang salah & mana yang benar, jadinya malah kita jadi ndak tau sama sekali
@anang: tolak…. *sok tegas*
@nasher: kalo ebtanas saya ndak ngrasain..
April 25th, 2008 at 10:35 am
alo.. ini kunjungan persahabatan
salam kenal.
wah standar UN udah naik lagi yah.. jaman saya blum ada UN sih.. yg ada EBTANAS, nilai yg paling jeblok Fisika hiks

cuma yaa anehnya, lolos UMPTN ke elektro
April 25th, 2008 at 10:40 am
alo.. kunjungan persahabatan..
salam kenal.
wah standar UN udah naik lagi yah.. jaman saya dulu blum UN, masih EBTANAS n nilai yg paling jeblok itu Fisika :hiks:
cuma anehnya, lolos UMPTN ke elektro
April 25th, 2008 at 11:36 pm
ah, UN… saya gak percaya sama hasilnya kok!

April 26th, 2008 at 6:52 am
nah itu dia.. emang UN itu kaya bentuk ketidakadilan, karena cuma beberapa bidang aja yg diujikan..
April 26th, 2008 at 8:17 am
@dhana: salam kenal juga mba
& selamat atas lolosnya UMPTN 

@slamet:
@ridu: ndak adil memang..
April 27th, 2008 at 12:00 am
Yuph!
ini memang lagu lama, mas
bahkan saya miris banged neyh,
baru td sore nonton liputan investigasi di trans tv soal pembocoran soal ujian itu..
ck ck ck, kayanya profesional banged gitu
tp lebih nyesek lagi ngeliyat kasus anak2 setress gara2 gak lulus ujian,
hufffff,
bagai buah simalakama -____-!
*untung saya udah lulus sekolah ^_^V!*
April 27th, 2008 at 2:12 pm
bener !!
saya setuju soal UN, temen2ku yg di SD aj pada males2an
tpi bisa tembus SMP yg kluster 1 tanpa adanya USAHA
itu sangat mmbuatku risih, moga2 pemerintah melihat ini
April 28th, 2008 at 1:47 pm
aku juga mau komen dulu aja. baca belakangan. Kayaknya memang anak2 tu gak perlu sekolah aja. sekolah juga di tentukan oleh belajar semalam. bukannya kewajiban tapi paksaan,menurut mereka. sama aku dulu sih, tapi kan ga ngeluh.mau berapa saja nilai minimalnya santai saja. kalau kita tau jawabannya kan ga usah khawatir lagi, ya ga?
Mei 13th, 2008 at 6:32 pm
[…] Pendidikan yang semakin kacau ? […]
Mei 18th, 2008 at 6:01 pm
Pemerintah cen aneh.. sepertinya udah terdoktrin.. kalo ga UN ga afdhol.. bisanya cuman gonta-ganti nama tapi sikapnya ga pernah berubah.. UHB, UUB, UNAS, UN, apalah.. Ujian Nasional >> memang negara ini sedang diuji…